
Padukuhan Singojayan berada di wilayah Kalurahan Sendangarum, Kapanewon Minggir, Kabupaten Sleman. Warga Padukuhan Singojayan, di masa penjajahan Belanda sampai Jepang, membaur, bergabung dengan tentara Indonesia. Saat itu padukuhan dijadikan basis atau markas tentara Indonesia. Pasukan tentara Indonesia menempati rumah-rumah warga, untuk dapur umum, untuk tempat mengatur strategi perang, dan cara mempertahankan daerahnya, serta untuk kegiatan yang lain. Tempat tersebut dianggap sangat strategis, sebagai basis sementara tentara Indonesia, dalam mengatur serangan, dan yang lainnya.
Tempat padukuhan tersebut memang agak jauh, dari jalan raya jurusan Ngijon-Kulonprogo yang ke arah barat dan Ngijon-Godean-Yogya ke arah timur. Serta jurusan ke arah utara, yakni Gedongan-Tempel dan ke arah selatan, yakni Gedongan- Klangon. Sedangkan Gedongan itu sendiri, merupakan perempatan jalan menuju ke empat arah tersebut. Sementara lokasi Padukuhan Singojayan berada di sekitar 250 meter utara jalan jurusan Ngijon-Kulonprogo, dan sekitar 400 meter barat perempatan Gedongan.
Tentunya Belanda tidak akan mengetahui, jika di Padukuhan Singojayan tersebut di-jadikan sebagai tempat basis atau markas sebagian dari tentara Indonesia. Sebab di-sepanjang jalan jurusan Ngijon- Kulonprogo, di sisi kiri dan kanan jalan, masih berupa sawah dan lahan kosong atau ngara-ara yang ditumbuhi banyak pepohonan yang rimbun serta semak-semak belukar. Sedangkan, basis atau markas tentara Belanda di waktu itu, ada di Klangon dan Cebongan.
Menjadi Markas Tentara Indonesia
Menurut Kepala Dukuh Singojayan, Bapak Saifudin (46 tahun); Bapak Sudarno (84 tahun) dan Jalal Hudin (82 tahun), tokoh masyarakat; Bapak Muhammad Sahal, warga setempat menjelaskan, bahwa di masa penjajahan Belanda sampai Jepang, warganya bersatu padu mendukung perjuangan tentara Indonesia yang waktu itu bermarkas di wilayahnya.
Warga berbaur menjadi satu dengan tentara Indonesia, dalam upaya ikut serta mengusir tentara Belanda sampai masa Jepang menjajah Indonesia. Rumah warga yang dijadikan sebagai markas tentara Indonesia adalah rumah Mbah Somadiharjo dan Mbah Khamim. Selama wilayahnya menjadi tempat markas tentara Indonesia, warga menutup jalan utama yang menuju ke lokasi dengan menaruh pepohonan yang ditebang diletakkan di tengah jalan. Ada pohon pisang, mangga, duwet, dan pohon- pohon besar lainnya.
Warga setempat dan sekitarnya terus membentuk pasukan tentara dalam satu wadah bernama Tentara Hisbullah . Pasukan Tentara Hisbullah tersebut bergabung dengan tentara Indonesia untuk melawan kekejaman Belanda dan penjajahan Jepang. Bahkan ketika tentara Indonesia bertempur di Ambarawa, Jawa Tengah, pasukan Tentara Hisbullah yang memiliki semboyan berjuang sampai titik darah penghabisan, ikut serta bertempur di Ambarawa.
Salah satu warga yang ikut bertempur di Semarang dan gugur tertembak tentara Belanda adalah Bapak Marjuki. Jenazahnya terus dibawa ke Singojayan dengan dikawal ketat oleh tentara Indonesia, dan dimakamkan di makam setempat. Makam Bapak Marjuki yang diberi bendera merah putih itu, berdampingan dengan makam tiga veteran yang juga gugur tertembak Belanda, yakni Abdullah Satari, Hilal dan Mbah Kemad.
Bapak Marjuki (Alm.) adalah putra pertama dari Bapak Amad Ali, mertua dari Bapak Muhammad Sahal. Bapak Muhammad Sahal itu sendiri, juga gugur ditembak oleh tentara Belanda ketika mencari rumput di bulak sawah timur Padukuhan Singojayan.
Dalam masa perjuangan tersebut, warga dari Padukuhan Singojayan dan sekitarnya memiliki peran dan andil besar dalam membantu tentara Indonesia bertempur melawan Belanda dan Jepang demi meraih kemerdekaan. Warga waktu itu, hanya memikirkan bagaimana caranya bisa ikut serta bergabung dengan tentara Indonesia dalam berperang melawan penjajah.
Di suatu hari, terdengar beberapa kali tembakan dari tentara Belanda di bulak sawah timur Padukuhan Singojayan. Tentara Belanda menembaknya dari pos gardu tepi jalan jurusan Ngijon-Kulonprogo. Dua tentara Indonesia gugur tertembak, dan yang satunya luka di tubuhnya. Kedua jenazah tentara Indonesia tersebut, terus dibawa ke masjid untuk disalatkan kemudian di bawa ke Kwayuhan, Sendangmulyo, Minggir, untuk dimakamkan bersama tentara Indonesia lainnya yang juga gugur melawan Belanda.
Asal Mula Nama Padukuhan
Menurut beberapa narasumber tersebut, nama Padukuhan Singojayan diambil dari nama simbah-simbah dahulu yang tinggal di padukuhan tersebut. Kebanyakan nama-nama warga di padukuhan tersebut, khususnya yang menjadi tokoh dan panutan bagi warganya, kebanyakan memakai nama singo ‘singa’. Seperti Singojaya, Singoreja, Singodimeja, Singodimulya, dan sebagainya.
Maka untuk memudahkan penyebutan nama padukuhannya, maka atas kesepakatan bersama, ada beberapa nama yang kemudian digabungkan untuk nama Padukuhan Singojayan. Nama Singojayan diambil dari nama Mbah Singojaya dan Mbah Singoreja. Kata Singojayan itu sendiri, juga diambil dari kata singo dan jaya. Singo artinya binatang buas, seperti juga harimau. Sedangkan jaya artinya (selalu) berhasil, sukses, hebat, dan jaya. Jadi Singojayan artinya suatu harapan untuk warganya agar selalu memiliki kesuksesan, kekuatan, kehebatan, dan kejayaan bagi warganya dalam berbagai bidang kehidupannya. Dikonteks ini, asumsinya seperti kejayaan masyarakat ketika melawan penjajahan Belanda dan Jepang kala itu (relasikan dengan cerita padukuhan menjadi tempat pengungsian dan penyusunan strategi perang).
Penulis : Marciana Sarwi