Slawatan Katolik (Slaka) adalah sebuah seni yang bermula dari penyebaran agama Katolik di Sendangsono, tempat ziarah bagi umat Katolik di daerah Promasan, Kalibawang, Kulon Progo, Yogyakarta. Slawatan Katolik ini merupakan inkulturasi dengan seni Slawatan Maulid Nabi Muhammad dan tembang macapat Jawa yang dikembangkan dalam pewartaan agama Katolik sehingga liriknya diganti dengan puji-pujian untuk Tuhan Yesus dan beberapa diambil dari Alkitab. Lirik dalam Slawatan Katolik ini memakai bahasa Jawa krama inggil dengan diiringi oleh alat musik tradisional Jawa seperti kendang, kenong, kempul, gong, kethuk, kempul, dan rebana. Irama yang dipakai dalam Slawatan Katolik menggunakan irama tembang macapat dengan laras slendro. Di wilayah Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta, Slawatan Katolik banyak berkembang di gereja-gereja Katolik, hampir di tiap kabupaten/kota yang ada di D.I. Yogyakarta terdapat kelompok Slawatan Katolik.  Di Kecamatan Minggir sendiri terdapat beberapa kelompok Slawatan Katolik diantaranya kelompok Slawatan Katolik di desa Sendangmulyo, Sendangagung, Sendangsari, dan Sendangarum.

Salah satu kelompok Slawatan Katolik di Kecamatan Minggir adalah Slaka Lingkungan 34 yang berlokasi di Daratan 3, Sendangarum, Minggir, Sleman. Kelompok ini dipimpin oleh Bapak Sukidal yang berusia sekitar 70 tahun dan bekerja sebagai seorang pengrajin kayu. Slaka Lingkungan 34 memiliki kurang lebih 30 anggota yang didominasi oleh golongan tua. Semua keperluan baik alat musik dan kostum merupakan kepemilikan pribadi. Jadwal latihan tidak rutin dan tembang-tembang yang dibawakan antara lain “Allah Iku” (Pucung), “Karsa Arsayaning Kayun” (Kinanthi), “Widodo Rayat Minulya” (Sinom), “Miyosiro” (Mijil), “Sigeg Gantya” (Megatruh), “Wong Aneng Ndonya” (Gambuh), “Sembah Bekti” (Mijil), “Sampak Sinom, Tan Ana” (Kinanthi), “Sampak Pangkur, Sembahyangan” (Asmaradana), “Risedhengira” (Pangkur), “Kanjeng Gusti” (Kinanthi), “Dhasar Bagus” (Lelagon), “Atur Ronce, Sampak Sinom, Romo Kula” (Dhandhanggula), dan “Jago Kluruk” (Dhandhanggula). Tembang-tebang tersebut dijadikan satu dalam buku untuk menjadi pegangan bagi kelompok slaka lingkungan 34 ketika  latihan maupun tampil.

Tembang-tembang dalam Slawatan Katolik berupa pujian-pujian kepada Tuhan Yesus dimana irama yang dipakai memakai irama tembang macapat, yang dalam liriknya terselip ajaran moral yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan. Contoh tembang pujiannya seperti:

Wong Aneng Ndonya (Gambuh)

Wong aneng ndonya iku (orang di dunia itu)

Suwita ing allah prelunipun (perlu berguru pada Allah)

Kang supaya bisa minggah ing swarga di  (agar bisa masuk surga)

Suwita ing allah kudu (harus berguru pada Allah)

Miturut wulang kang yektos (berdasar pelajaran yang nyata)

 

Piwulange gusti yesus (pelajarannya Gusti Yesus)

Sepisan wong kudu ngandel estu (pertama, orang harus sungguh percaya)

Marang kabeh ngendikaning allah yekti (terhadap semua perkataan Allah yang nyata)

Kapindho ngestokna dhawuh (kedua mematuhi perintah)

Ping telu sranane den nggo (ketiga aturan yang dipakai)

 

Yeku sarana luhung (yaitu perlengkapan/aturan yang luhur)

Mrih antuk sih paringing hyang agung (supaya dapat diberi oleh tuhan)

Ataberi sembahyang miwah sapardi (rajin beribadah)

Migunakaken satuhu (dengan sungguh sungguh)

Sakramen-sakramen kaot (lebih-lebih melihat rahmat dengan tanda tanda)

 

Tembang tersebut dinyanyikan menggunakan irama tembang gambuh, dimana dalam tembang gambuh isinya mengajarkan untuk mengungkapkan limpahan anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang harus ditebus dengan penghayatan mutlak, didasarkan pada kesucian batin, menjauhkan diri dari watak angkara murka (sifat egois yang berlebih-lebihan), serta ketekunan melakukan sembahyang.

Selama pandemi, kelompok Slaka Lingkungan 34 tidak melakukan kegiatan dan hingga saat ini para anggota Slawatan Katolik di daerah Daratan 3 belum bisa memulai aktivitas kembali. Sebelum pandemi, kelompok ini bertemu setiap dua bulan sekali pada tanggal 1 dan 15. Lokasi latihan berputar di tiap rumah sesuai giliran, dimana latihannya dibarengi dengan kegiatan arisan bapak-bapak di lingkungan tersebut. Bapak Sukidol mencoba mengumpulkan kembali anggota, namun sulit karena tidak ada generasi penerus yang tertarik untuk bergabung. Kelompok ini berharap agar seni Slawatan Katolik dapat terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman.

Sejarah

Slawatan Katolik adalah sebuah tradisi seni budaya Katolik yang berkembang di beberapa  wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Dalam proses inkulturasi agama Katolik di masyarakat Jawa, unsur-unsur budaya Jawa seperti seni musik dan bahasa Jawa digunakan untuk menyampaikan pesan agama Katolik. “Slawatan” dalam konteks ini merujuk pada tradisi musik dan puja-pujian yang menggabungkan unsur budaya Jawa dengan ajaran agama Katolik.  Jika ditelusuri dari sejarah liturgi gereja Katolik, slawatan bukanlah sebagai tradisi dalam agama Katolik, akan tetapi sebagai hasil inkulturasi budaya ke dalam liturgi. Dengan kata lain, bahwa shalawat pada awalnya hanya dilakukan oleh umat Islam. Penggunaan kata “Slawatan” maupun “Sholawat” dalam Islam digunakan untuk menyatakan puja-pujian atau doa kepada entitas Ilahi dalam agama masing-masing. Dalam konteks Islam, “Sholawat” adalah puji-pujian kepada Nabi Muhammad, sementara dalam konteks Katolik, “Slawatan Katolik” adalah puji-pujian kepada Tuhan Yesus dan tokoh-tokoh suci Katolik.

Di wilayah Sleman, Slawatan Katolik banyak berkembang di gereja-gereja Katolik. Persebaran budaya slawatan Katolik ini berasal dari sebuah desa di Kulonprogo yang kemudian menyebar hingga daerah sekitarnya seperti salah satunya di Kecamatan Minggir. Di Kecamatan Minggir ini  terbagi dalam lima desa/kelurahan yang masing-masing desa/kelurahan terdapat kelompok slawatan katolik diantaranya kelompok Slawatan Katolik di desa Sendangmulyo, Sendangagung, dan Sendangarum. Tiap kelompok slawatan katolik yang terdapat di Kecamatan Minggir memiliki sejarahnya sendiri dan adakalanya tiap kelompok memiliki persamaan dan perbedaan antara satu sama lain. Penamaan sebuah kelompok slawatan katolik juga didasarkan pada pembagian stasi (kewilayahan pada gereja katolik), untuk wilayah Kecamatan Minggir memakai pembagian dari Stasi Pojok, Klepu.

Sejarah Kelompok Slawatan Katolik di Sendangarum

Slawatan Katolik Lingkungan 34 merupakan salah satu kelompok seni yang ada di daerah Minggir, Sleman yang berkembang sejak Desember 1970. Disebut kelompok Slawatan Katolik lingkungan 34 karena lingkungan 34 merupakan penyebutan salah satu daerah pada padukuhan di Daratan 3. Pembagian lingkungan ini berdasarkan pada wilayah keuskupan Paroki Klepu, dimana ada  sekitar lebih dari 50 lingkungan dalam satu Kecamatan di Minggir. Salah satu contohnya adalah Lingkungan 34 ini.  Pada Paguyuban Slaka lingkungan 34 ini sebelumnya dipecah menjadi 2 (dua) kelompok yaitu kelompok Ludovicus dan Valentinus. Walaupun kelompok tersebut dipecah menjadi 2 (dua) namun tetap latihan bersama.

Kelompok Slawatan Katolik Lingkungan 34 awal mula didirikan oleh Bapak Luduvicus Sandi Utomo pada sekitar bulan Desember 1970. Kelompok Slawatan Katolik ini pernah vakum dan kemudian aktif kembali dan dikelola oleh anak beliau yaitu bapak Sukidol pada 20 Juni 1991. Sehingga, sampai sekarang bapak Sukidol merupakan penerus generasi kedua dari kelompok Slawatan Katolik Lingkungan 34 yang masih ada hingga sekarang.

 

Kajian

Slawatan Katolik merupakan contoh unik dari bagaimana agama Katolik telah melebur dan berinteraksi dengan budaya Jawa dalam bentuk seni dan musik. Slawatan Katolik berperan dalam memperkenalkan budaya Jawa kepada generasi muda melalui unsur-unsur budaya Jawa yang terdapat dalam seni ini. Seni Slawatan Katolik juga membawa pesan-pesan agama Katolik dalam lirik-liriknya terutama dalam menyampaikan ajaran moral kepada umat Katolik sehingga dipahami oleh umat Katolik di daerah tersebut. Ini membantu dalam memperkuat identitas komunitas Katolik yang merasakan kebersamaan dan kebanggaan dalam budaya mereka. Selain itu, Slawatan Katolik juga memainkan peran dalam kegiatan sosial komunitas. Sebelum pandemi, kegiatan sosial seperti arisan merupakan bagian dari pengalaman kelompok Slawatan Katolik. Ini memperkuat hubungan sosial antara anggota kelompok, menciptakan ikatan sosial yang erat di antara mereka.

Namun, pelestarian budaya ini dihadapkan pada tantangan karena anggota kelompok yang didominasi oleh generasi tua dan kurangnya minat generasi muda. Untuk mengatasi tantangan ini, perlu dilakukan upaya pengembangan yang mencakup pendidikan dan partisipasi generasi muda dalam kelompok Slawatan Katolik. Digitalisasi dan dokumentasi tentang Slawatan Katolik, termasuk sejarah, lirik, dan penampilan, agar dapat diakses secara daring oleh masyarakat luas. Ini dapat membantu dalam mempertahankan dan menyebarkan warisan budaya. Kerja sama dengan lembaga budaya dan program pelatihan untuk anggota kelompok adalah langkah-langkah penting dalam melestarikan Slawatan Katolik termasuk mengadakan pertunjukan atau pameran budaya. Dukungan finansial dan kerja sama antar-kelompok juga dapat memperkuat upaya pelestarian budaya ini.

Dengan upaya terkoordinasi dan berkelanjutan, pelestarian budaya Slawatan Katolik tidak hanya akan menjaga identitas komunitas Katolik di Kecamatan Minggir tetap kuat, tetapi juga akan memberikan kontribusi yang berharga untuk keberagaman budaya nasional Indonesia, mencegah hilangnya warisan budaya ini, dan menjaganya tetap hidup dalam perjalanan waktu.